Selasa, 19 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (5): Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!


<<< travelogue sebelumnya

Saya terbangun di pagi berikutnya dengan perasaan bersyukur karena tidak membeku ataupun terkena hypothermia. Walaupun wajah saya, sebagai satu-satunya bagian yang terbuka, seperti mati rasa.
 
Aliran air panas pada waktu berwudhu kemudian sedikit membantu saya menghangatkan diri setelahnya.
 
Saya sempat membuka jendela, dan mencoba menikmati pemandangan Nagarkot di waktu fajar. Semuanya putih! Tertutup kabut! Hahaha.
 
Hanya terlihat samar deretan pohon-pohon pinus, dan semak belukar di kaki bukit. Juga sebuah bangunan yang memiliki teras kecil terbuka pada puncaknya.

Mana dimana Cafe du Mont nya?
 
Bukit Mahankal masih diselimuti kabut tebal, ketika kami keluar dari hotel dan berusaha jalan kaki menikmati pagi. Rencananya pagi itu kami akan sarapan di Cafe du Mont, yang terletak tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.
Kabut di punggung bukit Mahankal
Cafe du Mont ini adalah sebuah restaurant yang menjadi bagian dari Peaceful Cottage. Menurut review yang saya baca di internet, dan dari gambar yang dipasang oleh Peaceful Cottage di website mereka, restaurant ini merupakan tempat yang cocok untuk bisa menikmati keindahan bentangan Himalaya sambil sarapan pagi.
 
Sebenarnya Nagarkot memiliki view point lain yang menjadi tempat utama untuk menikmati Himalaya. Tapi berhubung tempatnya agak jauh, maka kami memilih Cafe du Mont untuk itu. Lumayan khan, jaraknya lebih dekat, dan bisa disambi sarapan pagi?
 
Kurang lebihnya, seperti inilah suasana Cafe du Mont, dengan latar belakang Himalaya nya yang megah. Pasti sedap kalau sarapan di sini, dengan pemandangan seperti itu!
Teras Cafe du Mont dengan latar belakang Himalaya (source: Peaceful Cottage website)
Agak sulit untuk menemukan tempat ini, karena ketika saya merisetnya di google maps, lokasinya berada pada bagian bukit yang tidak memiliki penanda jalan. Cuma berupa point di tengah bukit yang penuh pepohonan.
 
Maka dengan sedikit mengandalkan memory visual dan insting, saya berusaha mencari Cafe du Mont. Sementara travelmate saya menurut saja, karena memang dia belum sempat melihatnya di google maps. Dan akhirnya ketemu!
 
Ternyata bangunan yang saya lihat dari jendela kamar tadi pagi, adalah Cafe du Mont! Saya mengenalinya, dari bentuk teras terbuka pada puncaknya, yang rupanya digunakan untuk pengamatan 360 derajat.
 
Memang agak tricky, karena Cafe du Mont tidak terletak di pinggir jalan, melainkan agak sedikit masuk dari jalanan utama (atau, memang kami tidak menemukan pintu masuk utamanya).
 
Matahari sempat muncul dan menggeser kabut, ketika kami sampai di Cafe du Mont.
Saya, menikmati pagi yang beku di Nagarkot
Roti Tibet dan Menanti Himalaya
 
Pagi itu kami memilih Tibetan Bread with Honey sebagai pembuka sarapan, dan pegawai Cafe du Mont menyarankan Ginger Tea with Honey sebagai minuman penyertanya. Konon berkhasiat untuk menjaga kesehatan tenggorokan di kala cuaca dingin seperti itu.

Roti khas Tibet yang disajikan pagi itu, rasanya agak mirip dengan donat. Bentuknya pipih lebar hampir memenuhi piring sajinya, dan teksturnya padat. Rasanya sedikit bergula, sehingga menjadi semakin manis ketika dimakan bersama madu. Tidak terlalu istimewa, tapi cukuplah untuk memuaskan rasa penasaran saya terhadap apapun yang berbau Tibet. Yaaa sekarang makan rotinya, siapa tahu besok-besok ke Tibet sungguhan. Amiin! Hahaha.
Tibetan Bread with Honey dan Chilli Sauce yang epic itu
Kabut dan matahari pagi itu sepertinya agak galau. Karena bisa tiba-tiba muncul bergantian. Matahari yang terang dan kabut menipis, kemudian kabut menebal dan membuat suasana menjadi gelap kembali. Begitu terus, berganti-ganti.
 
Kami sampai memesan makanan tambahan untuk sarapan, demi menanti Himalaya. Sepiring omelette, disajikan untuk berdua.
 
Saya agak terkejut ketika meminta chilli sauce untuk pelengkap omelette nya. Penampakan dan rasa chilli sauce di Nepal ini, sangat aneh buat saya. Warnanya hijau gelap kecoklatan, kental, dan berbau cuka. Rasanya campuran antara masam yang menggigit, dan pedas yang membakar. Pantas saja pelayan restaurant tadi seperti agak-agak kurang percaya ketika saya memesannya. Mungkin memang chilli sauce Nepal ini tidak cocok untuk sarapan pagi. Indonesian chilli sauces are the best lah!
Seperti inilah suasana Cafe du Mont di pagi itu
Pada akhirnya matahari bersinar cukup terang dan kabut semakin menipis, tapi ternyata Himalaya tak juga tampak. Pegawai restaurant yang ramah, bercerita pada kami bahwa memang dalam dua hari belakangan ini lembah Kathmandu ditutupi kabut debu yang membuat jarak pandang berkurang. Jika saja kami datang tiga hari lebih awal, mungkin kami bisa menikmati apa yang kami nanti pagi itu.
 
Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!

Kami memutuskan untuk kembali ke hotel, setelah satu jam lebih menunggu kemunculan Himalaya. Karena hari itu kami berencana untuk meninggalkan Nagarkot dan mengeksplor kota tua Bhaktapur.

Satu-satunya alasan kami memilih Nagarkot sebagai persinggahan pertama, memang demi sarapan pagi sambil menikmati Himalaya. Tapi mungkin itu bukan hari keberuntungan kami.

Dan terbukti nantinya, satu-satunya waktu keberuntungan kami berjumpa dengan Himalaya dari sembilan hari perjalanan itu adalah ketika di Pokhara. Namun begitu, kami tidak menyesal menghabiskan waktu di Nagarkot. Dan saya insya Allah ingin singgah di Nagarkot, jika kembali mengunjungi Nepal.
Saya bersama Razeen pengelola Hotel at The End of The Universe, sebelum pergi ke Bhaktapur
Saya sempat menikmati beberapa cangkir masala tea di restaurant hotel, sebelum berpisah dengan Nagarkot. Berbincang-bincang dengan pegawai hotel yang ternyata pernah bekerja di Timur Tengah, dan mempunyai teman-teman yang berasal dari Indonesia. Satu-satunya kalimat dalam bahasa Indonesia yang masih dia ingat adalah: "Aku cinta kamu" :-D

Mobil jemputan kami hari itu, kurang lebih sama dengan mobil yang membawa kami sehari sebelumnya. Dan menjadi semakin sesak, karena salah seorang pemilik hotel, ikut bersama kami dalam kendaraan itu. Ternyata, keluarga mereka, tinggal di kota tua Bhaktapur.
Bhaktapur Durbar Square
Setelah kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan, kami sampai di gerbang Bhaktapur. Kota tua itu sangat membangkitkan semangat petualangan, dengan penampakannya yang benar-benar kuno. Rasanya seperti terlempar ratusan tahun ke belakang.

Bhaktapur, here we come!

3 komentar:

  1. nice post sob..
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya juga ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    agen situs poker online indonesia uang asli,poker online terpercaya dan teraman...
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com dan https://www.facebook.com/pages/Benua-poker/683720458370743?fref=ts
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/
    di oliviaclub.com poker online uang asli terbaik di indonesia dengan teknologi teraman dan tercanggih.
    main dan ajak teman anda bergabung dan dapatkan 20%+20% referral fee dari house commision untuk turnover teman ajakan anda...

    BalasHapus
  2. nice post....
    article yang menarik untuk dibaca dan bermanfaat...
    maju terus sob,,,
    kunjungi blog saya juga ya sob, http://chaniaj.blogspot.com
    dan kunjungi juga situs kesayangan kami http://www.oliviaclub.com/oliviaclub/index.php
    oliviaclub poker online uang asli indonesia terbaik dan terpercaya
    Poker Indonesia, Indonesia Poker, Poker Online Indonesia
    yuk,,buruan gabung,,ada bonus nya lho,,,,

    BalasHapus