Senin, 18 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (4): Overnight at The End of The Universe


<<< travelogue sebelumnya

Sedari awal, kami memang merencanakan untuk menginap pertama kali di Nagarkot, begitu sampai di Nepal. Bukan di Kathmandu. Dengan alasan, agar pergerakan traveling kami bisa lebih efisien. Dari timur ke tengah, lanjut ke barat, lalu ke tengah, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Menurut rencana, jalur traveling kami adalah seperti ini: Nagarkot - Kota Tua Bhaktapur - Kathmandu - Pokhara - Kathmandu. Dan kemudian kembali terbang ke Jakarta.

Nagarkot sendiri merupakan sebuah desa, yang berjarak sekitar 30 km dari Bandara Tribhuvan di Kathmandu. Terletak pada ketinggian 2195 meter di atas permukaan laut, dengan kontur yang berbukit-bukit dan menjadi bagian dari distrik Bhaktapur.

Rute dari Bandara Tribhuvan Kathmandu menuju Nagarkot (google maps)
Desa ini banyak direkomendasikan bagi para traveler yang ingin menghabiskan waktu untuk aklimatisasi sebelum atau sesudah melakukan trekking ke Everest Base Camp (EBC). Selain juga merupakan tempat melarikan diri dari kesumpekan Kathmandu yang lebih metropolis.
 
Nagarkot memiliki view point yang bagus untuk menikmati keindahan Pegunungan Himalaya dari kejauhan. Sekitar delapan dari tiga belas range Himalaya bisa diamati dari Nagarkot. Yaitu: Annapurna, Manaslu, Ganesh Himal, Langtang, Jugal, Rolwaling, Mahalangur (range Everest) dan Numbur. 
 
Himalaya Namaskar dari sini? Cocok! :-)

Menuju Ujung Jagad Raya
 
Selepas melewati kota tua Bhaktapur, kondisi jalanan berubah. Tak ada lagi jalanan yang lebar dan lengang. Melainkan sedikit sempit, sesekali padat di beberapa titik, dan kontur jalanan yang sedikit bergelombang dan menanjak.
 
Setelah beberapa lama, mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan pedesaan yang sekilas mirip dengan Indonesia. Tanah-tanah lapang yang berisi kebun dan sawah-sawah, bukit-bukit yang rimbun oleh pepohonan, satu dua rumah atau perkampungan kecil yang terpisah agak jauh dengan lainnya.
 
Suasana pedesaan, sepanjang jalan menuju Nagarkot
Bentuk dan atap rumah-rumah yang umum saya lihat di sepanjang jalan terlihat unik. Kebanyakan merupakan bangunan berbentuk kotak dengan atap yang terlihat dari lembaran seng yang diberi batu-batu sebagai penahan. Selain memang ada satu dua rumah atau bangunan, yang memilik atap seperti yang saya kenal pada umumnya. Tampaknya, itu berasal dari orang-orang yang lebih mampu.



Di sepanjang jalan, banyak warga desa berjalan dengan memakai pakaian musim dingin mereka. Mereka terlihat keren dengan jaket, sweater dan syal yang dikenakan. Agak janggal, karena di pedesaan di Indonesia saya jarang melihat yang seperti itu. Ya wajar sih, beda musim dan beda iklim.
 
Begitu juga dengan murid-murid, yang tampaknya baru pulang dari sekolah. Seragam mereka tidak kalah keren. Memakai jas, sweater dan dasi yang bernuansa biru gelap, plus beberapa di antaranya memakai topi. Kok sepertinya pakaian musim dingin memungkinkan kita untuk tampil lebih keren ya? Hahahaha
 
Jalanan semakin menanjak, dan jajaran rumah semakin jarang. Kami memasuki daerah perbukitan yang rimbun oleh pepohonan. Benar-benar mirip Indonesia. Hampir serupa dengan kawasan Puncak. Tapi bedanya saat itu, pepohonannya tidak terlihat hijau bersih. Melainkan kusam, karena tebalnya debu-debu yang menempel di permukaannya.
 
Kabut debu memang sedang menutupi lembah Kathmandu, dan karena sudah lama tidak turun hujan, maka hal itu semakin parah. Saking tebalnya kabut debu, jarak pandang kami paling jauh berkisar hanya dua kilometer. Jadi meskipun kami bergerak semakin tinggi, kami tidak bisa menikmati luasnya lembah Kathmandu dengan baik.
 
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Bandara Tribhuvan, akhirnya kami sampai di penginapan. Sebuah tempat yang namanya memberikan sensasi amat jauh dari manapun. Sebuah hotel di ujung jagad raya.
 
Hotel at The End of The Universe
 
Adalah namanya yang membuat kami memutuskan untuk bermalam di sini. Ear-licious! Bayangkan saja, bermalam di ujung jagad raya sebagai pembuka perjalanan di kaki Himalaya. Sounds cool, right?
 
Hotel ini terletak pada bukit Mahankal, dan terdapat satu kuil kecil yang bernama sama dengan bukit itu di dekatnya. Walaupun bukan bagian yang tertinggi di Nagarkot, pelataran di dekat kuil tersebut bisa dijadikan sebagai view point alternatif untuk melihat pemandangan di bawahnya dan sebagian Himalaya.
Papan penanda di gerbang hotel
Pintu gerbang dan pelataran hotel ini terletak di bagian bawah, sedangkan bangunan utama hotel terletak di atas bukit. Sehingga untuk mencapainya, kami harus menaiki tangga dan melewati rimbunan pepohonan di sekitarnya. Terdapat juga cottage-cottage kecil yang merupakan bagian dari hotel ini, tersebar di sepanjang perjalanan menuju ke atas bukit. 
Bangunan utama hotel dengan kuil kecil pada bukit di atasnya
Bangunan utama hotel ini terdiri dari tiga lantai. Dengan lobby, dapur dan ruang komunal di bagian bawah, serta kamar-kamar penginapan di atasnya. Saya menyukai bentuk dari hotel ini, dengan gaya Nepali-Western nya. Terasa homy dan bersahabat. Langit-langit ruangannya tidak tinggi, mungkin agar bisa membuat suhu di dalamnya tetap hangat.
Not a fancy but warm hotel, indeed

The lobby and the restaurant (source: the hotel website)
Lobby hotelnya kecil, dan menyatu dengan ruang komunal yang juga dijadikan sebagai restaurant, dan bersebelahan dengan dapurnya. Terdapat dipan-dipan yang berisi bantal-bantal dan meja untuk tempat makan. Dinding dan interiornya berwarna coklat dan turunannya. Dengan beberapa pot seukuran baskom yang berisi air dan bunga-bunga mengambang seperti di Bali. Sedangkan hiasannya didominasi oleh patung dan kerajinan bernuansa Buddha dan Hindu Himalaya.
Kabut turun di Nagarkot
Saya rasa suhu sudah turun di bawah 10 derajat celsius, dan mungkin juga di bawah 5 derajat celsius, ketika kami sampai di situ. Kabut pun mulai turun. Kedua kalinya saya merasa tertampar oleh angin dingin Nepal, sesaat setelah keluar dari mobil tadi.

Perjalanan menanjak dari pelataran parkir menuju lobby hotel yang lumayan tinggi tadi, tidak sanggup memberikan kehangatan kepada tubuh saya. Ujung-ujung jari tangan dan hidung saya mulai kebas. Dan setiap hembusan napas saya, menghasilkan uap yang mengepul.
 
Kami diterima dengan hangat oleh petugas hotel yang meregistrasi, sembari memberikan info singkat tentang hotel termasuk bahwa mereka tidak menyediakan heater karena keterbatasan listrik di Nepal. Tetapi mereka menyediakan kantong pengompres dari karet, dan bisa diisi dengan air panas yang diambil dari keran.
 
Masala tea? Yes, please! Wifi? No worries!
 
Begitu sampai di kamar, saya buru-buru menambahkan long-john sebagai dalaman baju, memakai jaket musim dingin dan syal, untuk menebalkan lapisan baju demi menghangatkan diri. Karena sebelumnya, saya masih memakai baju dengan settingan temperatur Jakarta. Hanya sweater yang menahan dingin pada tubuh saya sejak di dalam pesawat tadi.
 
Perut kami segera menuntut untuk diisi, karena sepertinya terakhir kali kami makan besar pada waktu masih di Jakarta. Malam itu kami memesan nasi goreng, dan masala tea.
Nasi Goreng dan Masala Tea
Nasi gorengnya dihidangkan dalam porsi besar, dengan taburan kacang mete kering. Rasanya lumayan enak, meskipun nasinya terlihat lebih basah. Mungkin baru selesai ditanak. Bumbunya khas, dan bisa diterima oleh lidah saya dengan baik. Meskipun tidak mirip nasi goreng a la Indonesia, tapi rasanya tidak terlalu asing.
 
Saya suka masala tea nya, yang dihidangkan dalam campuran susu, dengan aroma yang menyenangkan. Sehari-hari saya tidak terlalu sering minum teh dan tidak begitu suka susu. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya suka campuran ini. Dan minuman ini menjadi favorit saya selama di Nepal.
 
Malam itu listrik beberapa kali padam, dan kami makan dengan penerangan yang sedikit remang. Tapi justru suasana itu menyenangkan, cocok dengan kondisi ruangannya. Saya malah membayangkan berada di tempat yang lebih jauh lagi, di Tibet.
Makan malam sambil tetap online
Tapi kejutannya adalah, meskipun listrik dihemat-hemat oleh mereka, internet dijaga agar tetap terkoneksi. Bahkan, itu saya alami di hampir semua tempat di Nepal. Selama di sana saya tetap bisa online dengan lancar, meski saya tidak membeli sim card lokal. Karena hampir semua penginapan, tempat makan dan beberapa area publik menyediakan WiFi yang bisa diandalkan. Jauh lebih mudah dibandingkan dengan Indonesia. So, bisa sering update di social media hahahaha
 
Membeku di Nagarkot
 
Kejutan selanjutnya datang dari air keran, waktu saya mau berwudhu. Dinginnya gila, lebih dingin dari air di dalam kulkas. Saya lupa kalau seharusnya saya mencampurnya dengan aliran air panas. Maklum, kebiasaan di Indonesia! Hahaha
 
Waktu itu temperatur udara hampir menyentuh nol derajat celsius. Dan saya yang terbiasa menjadi anak pantai, harus berjuang ekstra keras untuk bisa menyesuaikan diri.
 
Kurang lebih, kamarnya seperti ini (source: the hotel website)
Meskipun kamar kami tidak terlalu besar dan terlihat cukup nyaman, namun tidak dilengkapi heater, maka apapun yang berada di dalamnya ikut menjadi dingin. Termasuk bantal, seprai dan selimut tebal yang mereka sediakan.
 
Terpaksalah malam itu, kami tidur dengan berpakaian lengkap plus kaos kaki sembari memeluk kantong karet pengompres berisi air panas. Dan hanya ketabahan, yang menjadi penguat selanjutnya :-D
 
Info, Tips & tricks:
  1. Membawa sleeping bag akan sangat membantu untuk tidur, jika memutuskan untuk traveling ke Nepal pada waktu musim dingin, meskipun itu hanya di dalam kota Kathmandu dan sekitarnya.
  2. Listrik sangat terbatas di Nepal, maka bawalah power bank untuk gadget, dan charge lah sampai maksimal setiap kali ada kesempatan.
  3. Listrik di siang hari lebih banyak mengandalkan solar cell, dan meskipun sesekali padam namun listrik di malam hari lebih bisa diandalkan.
  4. Tidak perlu membeli sim card lokal, karena WiFi dan jaringan internet di Nepal cukup banyak dan bisa diandalkan.
  5. Jika di jalan tersasar dan perlu mengontak hotel, maka coba pinjam dari warga lokal. Pada umumnya mereka mau membantu, asal kita cukup sopan pada waktu menyampaikannya.
  6. Info lebih lanjut tentang Hotel at the End of The Universe, bisa dilihat pada tautan berikut ini: http://www.endoftheuniverse.com.np/
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar