Selasa, 04 Agustus 2015

Pindah Rumah



Resmi sejak tanggal 30 April 2015 saya tidak lagi menggunakan blog jurnalbart.blogspot.com sebagai media menulis kreatif saya di dunia maya. Untuk selanjutnya silahkan kunjungi saya di www.bartzap.com

Blog tersebut akan lebih dikhususkan untuk mencatat pengalaman perjalanan saya dan hal-hal yang berkaitan dengannnya.

Sampai jumpa di rumah baru saya.

salaam,
BaRT ...

Selasa, 19 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (5): Goodbye Nagarkot, Hello Bhaktapur!


<<< travelogue sebelumnya

Saya terbangun di pagi berikutnya dengan perasaan bersyukur karena tidak membeku ataupun terkena hypothermia. Walaupun wajah saya, sebagai satu-satunya bagian yang terbuka, seperti mati rasa.
 
Aliran air panas pada waktu berwudhu kemudian sedikit membantu saya menghangatkan diri setelahnya.
 
Saya sempat membuka jendela, dan mencoba menikmati pemandangan Nagarkot di waktu fajar. Semuanya putih! Tertutup kabut! Hahaha.
 
Hanya terlihat samar deretan pohon-pohon pinus, dan semak belukar di kaki bukit. Juga sebuah bangunan yang memiliki teras kecil terbuka pada puncaknya.

Senin, 18 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (4): Overnight at The End of The Universe


<<< travelogue sebelumnya

Sedari awal, kami memang merencanakan untuk menginap pertama kali di Nagarkot, begitu sampai di Nepal. Bukan di Kathmandu. Dengan alasan, agar pergerakan traveling kami bisa lebih efisien. Dari timur ke tengah, lanjut ke barat, lalu ke tengah, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Menurut rencana, jalur traveling kami adalah seperti ini: Nagarkot - Kota Tua Bhaktapur - Kathmandu - Pokhara - Kathmandu. Dan kemudian kembali terbang ke Jakarta.

Nagarkot sendiri merupakan sebuah desa, yang berjarak sekitar 30 km dari Bandara Tribhuvan di Kathmandu. Terletak pada ketinggian 2195 meter di atas permukaan laut, dengan kontur yang berbukit-bukit dan menjadi bagian dari distrik Bhaktapur.

Rute dari Bandara Tribhuvan Kathmandu menuju Nagarkot (google maps)
Desa ini banyak direkomendasikan bagi para traveler yang ingin menghabiskan waktu untuk aklimatisasi sebelum atau sesudah melakukan trekking ke Everest Base Camp (EBC). Selain juga merupakan tempat melarikan diri dari kesumpekan Kathmandu yang lebih metropolis.
 
Nagarkot memiliki view point yang bagus untuk menikmati keindahan Pegunungan Himalaya dari kejauhan. Sekitar delapan dari tiga belas range Himalaya bisa diamati dari Nagarkot. Yaitu: Annapurna, Manaslu, Ganesh Himal, Langtang, Jugal, Rolwaling, Mahalangur (range Everest) dan Numbur. 
 
Himalaya Namaskar dari sini? Cocok! :-)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (3): Kathmandu, First Encounter

 

<<< travelogue sebelumnya

Sebenarnya adalah Tibet yang menjadi obsesi saya sejak kecil. Negeri yang berada di utara punggung Himalaya itu sudah bertahun-tahun menarik hasrat saya untuk traveling ke tengah Benua Asia. Namun karena beberapa masalah teknis, sampai saat ini saya belum berhasil kesana.

Maka ketika untuk pertama kalinya saya melihat orang Tibet di Kathmandu, saya langsung mengamati mereka dengan amat sangat. Penampakan mereka terlihat sangat eksotis. Wajah keras bermata sipit, dan terkadang sedikit mirip Indian, dengan guratan yang dalam. Bulir rambut mereka tebal dan kuat. Dengan kulit terang yang kuning kemerahan, akibat sering terpapar suhu dingin yang ekstrim. Perawakan mereka tampak kokoh, karena tempaan alam yang keras. Beberapa bagian atau lapis baju mereka, terutama wanitanya, terlihat tidak jatuh lembut, melainkan kaku. Sepertinya mengandung kulit binatang, karena saya melihat ada bulu-bulu juga disana.

Rombongan Tibet di Baggage Claim Area
Saya tidak tahu, apakah cara saya mengamati mereka terlalu obvious saat itu. Namun saya rasa, mungkin mereka juga terbiasa dengan cara orang baru, memandang mereka. Saya hanya khawatir, cara saya mengamati, bisa menyinggung mereka. Maka ketika seorang kakek Tibet melihat ke arah saya yang sedang asyik mengamati, saya berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana dan menghilangkan kegugupan. Ia membalas dengan senyuman, yang seketika merubah wajah kerasnya menjadi ramah luar biasa.

Jumat, 15 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (2): Welcome to Nepal!




<<< travelogue sebelumnya

Saya teringat pada suatu sore di Gili Trawangan, di bulan Oktober 2013. Travelmate saya melontarkan satu ajakan, "kita jalan ke Nepal yuk?"

Dengan spontan saya cuma menjawab, "Nepal?"
Saya tidak menolak, juga tidak merasa terlalu tertarik.

Dan entah dapat ide darimana, tiba-tiba sebulan kemudian, secara impulsif, saya membeli tiket Jakarta-Kathmandu pp, untuk perjalanan di bulan Desember 2013.

Sejak itu, saya langsung melakukan riset singkat. Mau eksplor apa saja, mau menginap dimana, jalan kemana saja, caranya bagaimana dan naik apa. Sedetail-detailnya. Termasuk membuat perkiraan biaya yang harus disediakan selama di Nepal. Dan ini adalah salah satu proses yang sangat saya nikmati sebelum traveling.

Dari riset singkat itu, saya akhirnya tahu bahwa bulan Desember adalah masa dimana Nepal sedang berada dalam musim dingin. Meskipun saya tahu bahwa Himalaya berpuncak salju, saya sama sekali tidak membayangkan bahwa Nepal akan terlalu dingin. Pun, karena saya membaca info, bahwa salju jarang turun di lembah Kathmandu.

Dengan membeli satu set long-john dan berbekal syal, sarung tangan, jaket-musim-dingin-berisi-bulu-angsa pinjaman, saya yakin akan bisa survive di Nepal. Dan nantinya saya belajar, bahwa itu saja tidak cukup. Perlu satu hal lagi untuk bisa survive dengan musim dingin di Nepal. Yaitu KETABAHAN! Haha :-D

Kamis, 14 Agustus 2014

Travelogue - Nepal (1): Namaste!


 
Aku ingat senja itu,
ia tenang, megah dan membekukan waktu.
Beranjak redup perlahan,
menyisakan puncak-puncak bersalju,
dalam hitam dan bilur bara yang melepuh.
 
Aku ingat senja itu,
ketika aku lupa akan mimpi dan guliran waktu.
Yang mengaburkan keemasan surya,
dalam desauan angin dingin,
dan menyisakan kerinduan yang senyap.
 
(Sarangkot-Nepal, 23 Desember 2013)
 
===============================================================
 
Namaste!*,
setelah berbulan-bulan kembali dari Nepal dan berulang kali tenggelam dalam romansa kerinduan akan perjalanan itu, baru kali ini akhirnya saya benar-benar bertekad untuk menuliskannya. Alasan paling tepatnya adalah, karena akhirnya saya merasa takut apa yang saya lalui saat itu, akan hilang bersama waktu dan ingatan saya.
 
Foto di atas, adalah gambaran dari senja yang menimpa Pegunungan Himalaya pada Range Annapurna, yang saya nikmati dari Sarangkot View Point. Sebuah titik pengamatan Himalaya, pada desa Sarangkot yang terletak di Pokhara, Nepal.
 
Buat saya, kala itu adalah salah satu senja terbaik yang pernah saya nikmati seumur hidup. Karena sebelumnya saya sudah menikmati beribu-ribu senja di perkotaan, beratus-ratus senja di lautan, dan berpuluh-puluh senja sembari menatap horison dari tepi pantai. Namun senja yang menenggelamkan pegunungan bersalju ini adalah yang pertama kalinya. Pun, ia adalah Himalaya yang megah itu.
 
Mungkin saya tak akan pernah bosan, dan bisa berpanjang-panjang membahas senja itu, nanti. Karena tulisan ini hanyalah pembuka, dari seri travelogue perjalanan saya selama sembilan hari di negara yang menjadi Kerajaan Hindu terakhir di dunia. Negeri Seribu Kuil. Nepal.
 
Semoga saya cukup berdisiplin untuk menuliskan lanjutannya :-D
 
* Namaste = adalah salam yang diucapkan sembari menangkupkan dua telapak tangan di depan dada, sebagai pembuka atau ketika kita bertemu dan berpisah dengan orang lain di Nepal.
 

Kamis, 16 Agustus 2012

Kita: Kau & Aku

Dahulu,
aku berjanji padamu,
akan mencintaimu sebagai manusia,
dan bukan malaikat.

Sehingga,
ketika kau berbuat khilaf,
aku akan memafhumimu sebagai manusia,
bukannya malaikat.

Kini aku sadar,
terkadang sulit bagiku untuk memafhumi sebentuk khilaf,
karena aku hanyalah manusia,
dan bukan malaikat.

Aku hanya memintamu,
untuk membantuku melalui waktu,
mengumpulkan serpihan asa percaya,
menjadi janji terikat.

Aku ingin seperti dahulu,
ketika di antara kita hanyalah kita.
Bukan seperti saat ini,
ketika di antara kita menjadi kau dan aku.

~medio january 2008~

Minggu, 12 Agustus 2012

[Photo Portfolio]: Portrait of Mendut


Roro Mendut was a foster daughter of Adipati Pragolo Duke of Pesantenan (now Pati), who has been tributed to Tumenggung Wiroguno from Mataram in 17th century.

As she refused to be married by the Tumenggung, she was repressed to paid such an expensive taxes. To encountered the suppresive taxes from the Tumenggung, she sold cigarettes to earned money.

She sold the cigarettes uniquely, by ignited and sucked the cigarette prior to gave it to the buyers.

She became famous because of this attitude. The buyers believed that the cigarettes which has been  sucked by Roro Mendut were sweeter than others.



======

Photographer: Bartian Rachmat
Talent: Selva Rizqi
MUA: Ricka Mayangsari
Asst. Photographer: Badai Taufan
Wardrobe: Collection of Hanibani Shop

Minggu, 05 Februari 2012

[Photo Portfolio]: Alter Ego


Photographer & Editor: Bartian Rachmat (BaRT)
Stylist: Bartian Rachmat (BaRT)
MUA: Finka
Model: Finka
@2012

Selasa, 18 Oktober 2011

a Prewedding Video of Vina & Lutfi: LOVE IS


Client: Vina & Lutfi
Director: Badai Taufan
Director of Photography: Bartian Rachmat
Script Writer: Bartian Rachmat
Editor: Badai Taufan
Produced by Saba|Saka Visual Art @ 2011

=========================

Catatan Produksi:
Sesuai permintaan Vina dan Lutfi sebagai client. Script video ini saya buat dalam konsep semi-dokumenter yang kocak, dengan beberapa scene konyol, namun tetap romantis. Mereka tidak berperan menjadi orang lain, kecuali diri mereka sendiri.

Proses shooting berlangsung selama hampir satu hari penuh. Dimulai dari malam sebelumnya, dimana kami melakukan shooting untuk mengambil stock gambar karaoke bersama dengan lagu dan kostum a la 80an (karena gak mungkin nenteng lampu gaban ke areal IV, jadi agak remang). Dan dilanjutkan esok harinya untuk scene-scene: ice skating, pergi ke bengkel, dan piknik bersama, dari pagi hingga malam lagi. Pfiuuuuh ...

Buat saya, salah satu scene yang paling sulit sekaligus pada akhirnya menjadi favorit, adalah scene ice skating (terutama di menit ke 6:14. It is so you, Vin! haha). Sebagai DoP saya harus mengambil gambar dari jarak jauh, dan kucing-kucingan dengan security yang menjaga lokasi di sekitar Ice Ring, yang berada di salah satu mall terkenal di Jakarta Barat itu.

Vina dan Lutfi, hanya kami arahkan sebelum memasuki Ice Ring, untuk bermain sepuas-puasnya dan tanpa beban. Dan untuk memberi tahu bahwa stock gambar dirasa cukup atau kurang, kami berkomunikasi dari jarak jauh melalui hp.

Kesulitan lain dari shooting di Ice Ring ini adalah, karena saya harus mengambil gambar dengan lensa tele tanpa tripod. Yang berarti saya harus memegang kamera berlensa panjang ini, dengan kokoh, sambil mengatur fokus dan deg-degan menghindari petugas security. Alhamdulillah nya, stock scene stabil yang didapat jumlahnya cukup, dan memuaskan.


Sedangkan shooting scene-scene lainnya, terbilang cukup lancar dan tanpa hambatan berarti.

Setelah hampir dua bulan lebih, akhirnya video ini berhasil dirampungkan (karena sempat terhambat oleh computer sang editor yang crash berulang kali). Dan saya berkesempatan menyaksikan pemutaran video ini di acara resepsi pernikahan Vina dan Lutfi.

Alhamdulillah sambutan yang datang cukup memuaskan, terutama dari Vina dan Lutfi sendiri. Dan itu adalah hal yang jauh lebih menyenangkan dari bayaran yang kami terima untuk mengerjakan project video ini.

Dan saat ini, saya sedang bersiap-siap untuk mengerjakan project film pendek saya. Doakan yaaaa ...

Selasa, 02 Agustus 2011

[Photo Portfolio]: Mixed Media Photography



Photography & Mix Media by: Bartian Rachmat (BaRT)
Photo is transfered by Gel Medium and responsed by poster paint.

Minggu, 17 Juli 2011

[Photo Portfolio]: Sudden That

Photographer & Editor: Bartian Rachmat (BaRT)
Stylist: Bartian Rachmat (BaRT)
MUA: Selvana Quatreu (Ana)
Model: Taufan Gio
@July 2011

[Photo Portfolio]: Beauty Photoshoot of Icha


Photographer & Editor: Bartian Rachmat (BaRT)
Make Up Artist: Felita, Lasalle College
Model: Anissa Nuradi (Icha)
@July 2011

Senin, 27 Juni 2011

Bruce Lee & The Tao Of Photography


Artikel berikut ini adalah sebuah saduran bebas -dengan beberapa notifikasi pribadi dari saya-, yang saya ambil dari website Invisible Photographer Asia. Saya merasa perlu men-sharingnya, terutama untuk diri sendiri dan kawan-kawan yang sedang membutuhkan semangat dalam mempelajari fotografi.

Artikel ini mengutip beberapa kalimat-kalimat filosofis yang disarikan oleh Bruce Lee dari seni bela diri yang dikuasai dan dikembangkannya. Meskipun begitu, saya merasa, bahwa kalimat-kalimat yang bersifat membangkitkan motivasi ini bersifat universal karena dapat diaplikasikan secara luas dalam banyak aspek kehidupan.

Selamat membaca dan semoga berguna.

Sabtu, 18 Juni 2011

[Photo Portfolio]: Beauty Photoshoot of Ana


Concept, Photographer & Editor: Bartian Rachmat (BaRT)
Make Up Artist: Ricka Mayangsari (Ricka)
Model: Selvana Quatreu (Ana)
Assistant: Sandoz & Gio
@June 2011

Kamis, 07 April 2011

[Foto Jurnal]: Campuhan Ridge Walk, Ubud, Bali

Guys,
kalau kalian suka motret dan suatu saat berkesempatan main-main ke Ubud, coba datang ke Campuhan Ridge Walk. Itu adalah sebuah jalan setapak di bukit Campuhan, yang kanan kirinya diapit jurang dengan sungai yang berada di dasarnya. Waktu yang saya sarankan adalah di pagi hari, sebelum jam 10.

Daerah yang rendah polusi dan posisi matahari yang belum terlalu tinggi, akan memudahkan kalian untuk mendapatkan foto-foto pemandangan dengan langit yang dramatis. Gak perlu filter macam-macam, cukup CPL (untuk DSLR)!

Kalian bisa memotret sambil olahraga menyusuri bukit Campuhan. Jangan lupa bawa air minum ya. Karena sama sekali gak ada warung di sepanjang jalan itu. Tapi kalau kalian sudah sampai di ujung nya, coba untuk memasuki jalan desa yang di kanan kirinya terdapat banyak gallery dari seniman-seniman lokal. Setelah itu kalian akan menemukan Kafe Karsa.

Sambil istirahat (ditemani es kelapa muda), kalian bisa melanjutkan memotret suasana sawah dan pedesaan, lengkap dengan gunung yang menjadi latar belakangnya. Pokoknya gambar khas jaman kita SD gitu lah!

Btw, ini adalah foto-foto yang saya ambil di sekitar Campuhan Ridge Walk. Keseluruhan foto mungkin terlihat terlalu dramatis, soalnya waktu ngedit mood saya juga lagi agak-agak dramatis. Hehehehe ... ;-p

Ok, enjoy them! ;-)

jalan setapak di punggung bukit
pucuk-pucuk padi
sebuah bagian atap mini gallery di ujung Campuhan Ridge Walk
ujung ilalang tempat burung mengistirahatkan sayapnya
lansekap sawah dan desa di ujung Campuhan Ridge Walk, diambil dari teras Kafe Karsa
diubah dalam bentuk hitam putih pun, lansekap ini tetap menawan
lansekap vertikal
yang hidup sunyi menunggu mati

Selasa, 05 April 2011

[Travel Lomographia]: Thailand Trip

Sebagai monarki yang berhasil bertahan sejak berabad-abad lalu, dan negara berpenduduk Buddha terbanyak di dunia saat ini, Thailand telah berhasil menarik jutaan orang dari penjuru dunia untuk menikmati keunikannya.

Seni budaya dan arsitektur bangunan-bangunan kuno serta religinya merupakan salah satu sisi yang menarik untuk dijelajahi. Objek foto yang tak ada habisnya untuk dieksplor lagi dan lagi.

Foto-foto hasil dari kamera lomo LC-A+ yang diekspos pada film slide positif Kodak Elitechrome iso 100 dan diproses silang berikut ini, berhasil meng-capture keunikan-keunikan tersebut.